About me

Saat menuju istana, saya melihat sejumlah tombak tertancap di kanan kiri jalan dekat pintu gerbang. Itu adalah tanda bahwa siapapun tidak boleh lewat dan siapa saja yang menunggang kuda harus turun. Saya dan rombongan turun dari kuda lalu  bertanya kepada pejabat kesultanan yang menyambut:  “Kapan Sultan Pasai bisa menemui saya ?”

“Ini adat negeri kami. Para pendatang yang baru tiba harus menunggu tiga malam untuk bisa bertemu dengan Sultan. Tiga malam dianggap cukup untuk memulihkan kembali tenaga setelah para tamu kelelahan usai melakukan perjalanan panjang”. Demikian jawab pejabat kesultanan.

Kisah di atas adalah petikan catatan Ibnu Batutah, seorang musafir muslim abad tengah yang hampir 30 tahun lamanya (1380) melakukan perjalanan mengunjungi berbagai negeri. Seluruh pengalaman perjalanannya ia catat dalam sebuah kitab berjudul “Tuhfatun Nadh Fii Gharabil Amshar” (Hasil Pengamatan Menjelajahi Negeri-Negeri Asing). Saat masuk ke Tiongkok ia singgah dua kali di Indonesia. Ia menuliskan kisah perjalannya dengan detil seperti pada cuplikan di awal paragraph tulisan tadi yang ia tulis saat bertamu ke Kerajaan Samudera Pasai.

Tanpa catatan yang ditinggalkanya, kita tak akan pernah mengenal Ibnu Batutah. Tulisan bisa membuat nama penulisnya abadi dan dikenang orang sepanjang masa.  Dunia mengabadikan tokoh-tokoh besar lainnya karena karya tulis yang ditinggalkannya. Imam Ghazali masih terasa hadir saat kita membaca Ihya Ulumudin. Buah pikiran Plato yang hidup di ribuan tahun yang lalu masih “disujudi”  banyak orang hingga sekarang.

Saya ingin abadi seperti mereka lewat tulisan walau sebatas pada ruang memori istri, anak, sodara dan sahabat. Maka saya buat website Mastor Jongnam ini.

Catatan ini saya dedikasikan buat diri saya, istri dan anak dengan dengan maksud mengajak perlunya menghidupkan kegiatan literasi. Baca dan tulislah tentang apa pun yang bermanfaat.

Catatan ini lebih banyak berkisah pengalaman hidup saya saat tinggal dan bekerja di Negeri Khimchi. Karena itu, isi catatannya hanya “nasi campur”. Ada tentang makanan, objek wisata, informasi, peristiwa, renungan pribadi dan cerita pendek.

Terakhir, saya harus berterimakasih kepada Aa Dani Ramadan yang telah membuka jalan “memborojolkan” Mastor Jongnam ini. Bantuannya membangunkan kembali semangat saya untuk memuntahkan semua pengalaman lewat tulisan. Teratas, ucapan syukur tentu saya panjatkan ke Hadirat Ilahi Sang Pemilik  Cinta Agung. Karena Kasih Sayang-Nyalah saya bisa diberi kemampuan dan kemauan untuk menulis.

Akhirulkalam, semoga lewat karya ini eksistensi saya sebagai manusia tidak hilang ditelan sejarah. Sebagaimana pepatah Sastrawan Pramoedya Ananta Toer: “Anda boleh saja cerdas setinggi langit, tapi jika tak menuliskannya, anda akan sirna ditelan sejarah“.

 

 

Jongnam, Hwasongsi South Korea 2017