Yoboseoo, Saya Butuh Bantuan Anu.

Yoboseoo adalah ungkapan bahasa Korea saat memanggil dan menerima panggilan telepon. Dalam bahasa kita berarti halloo, atau bisa juga sedikit setara dengan “assalamualaikum”. Sengaja saya beri tanda kutip (” “) supaya tidak mengundang perdebatan. Posting kali ini berisi informasi nomor-nomor telepon penting yang dapat kita hubungi saat kita membutuhkan informasi atau bantuan ketika kita sedang berada di Korea. Entah itu sebagai tenaga kerja atau wisatawan. Berikut adalah nomor-nomornya:

Nomor Telepon Bantuan dalam layanan Bahasa Indonesia:

  • 02-7835-675 Kantor KBRI Seoul
  • 02-6386-8646 Kantor Bank BNI Seoul
  • 02-773-2092  Kantor Pesawat Garuda Seoul
  • 02-2176-8734 Kantor Gukmin / NPS (urus dana pension) minta disambungkan ke Ibu Fuji
  • 031-365-3089 Kantor Gukmin / NPS Kota Ansan  minta disambungkan ke Ibu Santi
  • 02-2119-2400 Kantor Samsung Hwajae Seoul (urus Asuransi)
  • 02-318-6140 Kantor Samsung Hwajae Kota Ansan, ke Ibu Linda
  • 021-292-44800 Calling Center BNP2TKI
  • 02-6215-8989 Informasi Haji di Korea

Nomor Telepon Pusat Bantuan Tenaga Kerja Asing:

1644-7111 Ansan, 1577-7716 Busan, 053-654-9700+3 Daegu, 031-986-7660 Gimpo, 032-5768114 dan 032-431-575 Incheon, 055-277-8779 dan 055-2378779 Changwon, 070-894-4843 Gimhae, 043-215-6252 Cheongju, 064-712-1141 Jeju

Nomor Telepon Bantuan Instansi Korea:

  • 1350 Pusat Konsultasi ke Depnaker
  • 1345 Imigrasi, Lapor Ijin Tinggal Dll.
  • 1577-0071 Pusat Konsultasi Tenaga Kerja Asing
  • 123 Pengaduan Gangguan Listrik
  • 121 Pengaduan Gangguan Air PAM
  • 1333 Informasi Lalu Lintas
  • 1300 Layanan Pengaduan Kantor Pos
  • 1330 Layanan Wisata Warga Asing
  • 1664-7111 Pusat Pelayanan Tenaga Kerja Asing
  • 1577-1366 Layanan Respon Cepat Pekerja Asing Perempuan
  • 119 Laporan Pasen Gawat Darurat dan Kebakaran
  • 112 Laporan Kriminal/Kejahatan
  • 114 Pelayanan Informasi Nomor Telepon

Demikian, semoga berguna.

Muslim, Nappeun Saram?

Sabtu pukul 7 sore hujan lebat disertai petir. Saya sudah berkemas untuk berangkat kerja malam. Hp saya berbunyi. Pada layar terlihat panggilan masuk dari Kukilsa teman saya orang Korea. “Sudah nunggu di depan”. Ujarnya di seberang telepon. Saya ambil payung, bergegas keluar rumah menuju mobilnya yang tengah terparkir. Kemarin dia berjanji akan menjemput saya jika turun hujan.

Hujan semakin deras, curahannya mengganggu jarak pandang arah jalan meskipun diterangi sorot lampu mobil. Sesekali kilat dan guntur menggelegar. Kilatan cahayanya “merobek” kegelapan malam kota Jongnam. Kukilsa memperlambat laju mobilnya. Tiba-tiba dia bertanya sesuatu yang membuat saya kaget.

Muslim nappeun saram?” (Muslim orang jahat?”) Begitu tanyanya.

Pertanyaan tersebut ternyata mengomentari peristiwa peledakan bom di Mesir pada Jum’at (24/11/2017) kemarin. Peristiwa menyeramkan yang menewaskan hampir 235 orang dan melukai 109 orang ini rupanya juga sedang menjadi topik hangat di media-media Korea.

“Dua ratus orang mati dibom. Padahal mereka berada di Mesjid. Kenapa tempat ibadah dibom? Mengapa sesama muslim dibunuh?” Lanjut Kukilsa heran. suaranya keras mengimbangi gemuruhnya suara hujan.

Pada momen seperti inilah saya merasa berkewajiban untuk menjelaskan dengan benar atas kesimpulan salah Kukilsa tentang umat Islam. Kondisi konflik di kawasan jajirah Arab dan rangkaian tindak terorisme lainnya yang mengatasnamakan Islam mau tidak mau menimbulkan kesan negative di benak non muslim seperti Kukilsa.  Maka dengan pengetahuan semampunya,  saya sampaikan kepadanya bahwa tindakan kejahatan tersebut tidak mewakili seluruh umat islam. Muslim anappu saram (Orang Islam tidak jahat)  kata saya. Agar dia puas , saya beri jawaban logis begini:

“Memang benar ada teror yang dilakukan seseorang yang  beragama Islam,  tapi itu bukan berarti kesalahan seluruh umat islam. Hitler adalah teroris keji beragama Kristen, ia membunuh 6 juta umat Yahudi. Lantas apakah umat kristen bisa disebut bersalah hanya gegara ulah satu orang Hitler? Begitupun Kristen Mussolini,  dia membunuh ribuan orang, tapi kita tidak bisa menyebut sebagai kesalahan umat Kristen, kan?” Kukilsa menganggukan kepala sambil tersenyum lebar. Tangannya gesit membelokan mobil ke halaman PT. Kwang Yong tempat kami bekerja. Setengah berlarian kami masuk ke dalam pabrik. Gelegar suara guntur kembali terdengar